Kamis, 16 Mei 2013

ADVERSITY QOUTIENT, APA ITU ?



ADVERSITY QOUTIENT, APA ITU ?
----------------------------------------------------------------------------------------------------


Penelitian menunjukkan bahwa selain IQ dan EQ, penentu keberhasilan seseorang dalam hidupnya adalah juga kemampuan adversity Qoutient (AQ).

Adversity Qoutient adalah kemampuan seseorang untuk seberapa jauh dapat bertahan  menghadapi kesulitan   kesulitan dan dapat mengatasi kesulitan kesulitannya.



Semua Kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan
(peluang) bagi jiwa kita untuk tumbuh



Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut sari tulisan Paul G. Stoltz, Ph.D.,
2000, tentang Adversity Qoutient ini.
Pada umumnya, ketika dihadapkan pada tantangan tantangan hidup, kebanyakan  orang berhenti berusaha  sebelum tenaga dan batas kemampuan benar benar teruji. Banyak orang yang mudah menyerah !
Mengapa ada banyak orang yang jelas   jelas sangat berbakat
(cerdas) namun gagal menunjukkan dan membuktikan potensi dirinya ?
Sebaliknya tidak sedikit orang yang hanya memiliki sepersekian saja sumber daya (bakat dan kecerdasan)  dan  dengan kesempata yang sama justru bisa lebih unggul dan mempunyai prestasi melebihi yang diharapkan dan diperkirakan.
Manusia   dilahirkan   dengan   dilengkapi   satu   dorongan   inti
manusiawi, yakni dorongan untuk terus mendaki.
Mendaki dalam arti luas adalah menggerakkan terus dan terus tujuan tujuan hidup ke depan.

Misalnya : tujuan memperbaiki nilai rapor, menyelesaikan SMA / Perguruan Tinggi, berwiraswasta yang sukses, menjadi seorang pakar yang piawai, pengusaha yang berhasil, dan seterusnya termasuk tujuan menjadi hamba yang dekat dengan Tuhannya sehingga sukses dunia akhiratnya.
Yang jelas orang orang yang sukses sama sama memiliki dorongan  yang  mendalam  (kuat)  untuk  berjuang,  untuk  maju,  untuk meraih cita – cita, dan mewujudkan impian impiannya.
Inilah kekuatan yang disebut adversity (adversity Qoutient), kemampuan untuk mendaki kehidupan ini dan siap bertahan dalam memecahkan kesulitan – kesulitan yang mungkin muncul.


Tipe tipe dalam pendakian
Dalam perjalanan pendakian hidup ini banyak ditemui bermacam
macam tipe manusia.
Ada tiga tipe besar manusia, yakni :
1.    Tipe Quitters (orang orang yang berhenti)
Mereka berhenti dan memilih tidak mendaki lagi, keluar, mundur dan menghindari kewajiban, tidak memanfaatkan peluang / kesempatan yang ditawarkan dan diberikan Tuhan dalam hidup ini.
2.    Tipe Campers (orang orang yang berkemah)
Mereka giat mendaki tetapi di tengah perjalanan bosan, merasa cukup dan mengakhiri pendakian dengan mencari tempat datar dan nyaman untuk membangun tanda perkemahan kehidupan ini.

3.    Tipe  Climbers (para  pendaki sejati /  orang   orang  yang  seumur hiduo             membaktikan        diri          pada       pendakian               menuju                kehidupan sesungguhnya di hari akhir nanti.
Gaya Hidup Quitter, Camper dan Climber


1.    Quitter (orang yang berhenti mendaki) memilih jalan hidup yang datar
datar saja dan mengambil yang lebih mudah saja. Ironisnya dengan cara itu, ia akan menderita pada saat yang memilukan adalah ketika ia menoleh kebelakang dan melihat bahwa ternyata kehidupannya tidak

optimal, kurang makna, banyak yang disia siakan, sangat boros dalam waktu dan hidup.
Akibatnya ia menjadi murung, sinis, pemarah, frustasi, menyalahkan semua  orang  disekelilingnya  dan  membenci  (iri  hati)  pada  orang  orang yang terus mendaki kehidupan ini.
Quitter mencari  pelarian  untuk  menenangkan  hati  dan
pikirannya  meski  semua  belaka.  Berlakulah  apa  yang  ditamsilkan bahwa  orang   orang  yang  takut  mati  sesungguhnya  tidak  pernah benar benar hidup.


2.    Gaya hidup Campers (orang orang yang berkemah). Pada mulanya kehidupannya  penuh  proses   proses  pendakian  dan  perjuangan, cukup jauh ia mendaki namun ia memilih berbelok membangun kemah di lereng gunung kehidupan. Karena lelah mendaki, menganggap prestasi ini sudah cukup. Ia senang dengan ilusinya sendiri tentang apa yang sudah ada, tak menengok apa yang masih mungkin terjadi.
Gaya  hidup  Campers memfokuskan  energinya  pada kegiatan  “mengukir   ukir perkemahan  dan  mengisi isinya  dengan barang barang yang membuat nyaman.
Ia melepaskan peluang untuk maju. Campers menciptakan semacam penjara yang nyaman sebuah tenda kehidupan yang terlalu enak untuk ditinggalkan.
Contoh  tipe  Campers adalah  orang   orang  yang  sudah
memiliki pekerjaan bagus, gaji dan tunjangan yang layak, namun mereka telah melepas masa masa penuh gairah, belajar dan tumbuh, energi kreatif. Mereka puas dan mencukupkan diri dan tidak mau mengembangkan diri (Aktualisasi diri).

3.    Gaya Hidup Climbers (pendaki sejati)
Mereka menjalani hidup secara lengkap, mereka yakin bahwa langkah – langkah kecil saat ini akan membawa kemajuan dan manfaat jangka panjang. Pendaki sejati tidak lari dari tantangan dan kesulitan kehidupan.

Kisah terkenal Thomas Edisson, yang membutuhkan lebih dari
20 tahun  dan  50.000  percobaan  untuk  menemukan  baterai  ringan, tahan lama, dan effisien sebagai catu daya mandiri. Seseorang pernah bertanya kepadanya Mr. Edison, Anda telah gagal 50 kali apa yang membuat Anda tegar ?
“Hasil! ”jawab Edison. Edison seorang Climbers yang yakin
akan hasil ia optimistik.
Climbers yakin bahwa segala hal bisa dan akan terlaksana meskipun orang lain bersikap negatif dan sudah memutuskan bahwa jalan ini tidak mungkin ditempuh lagi. Meski sesuatu belum pernah dilakukan orang, bukan berarti tidak bisa dikerjakan.
Ingat Mahatma Ghandi? Ia tokoh spiritual India yang tanpa kekuasaan  resmi,  tetapi  mampu  menggalang  kekuatan  bangsanya untuk menggulingkan kolonial Inggris.
Climber tak  kenal  kata  berhenti  dalam  kamus  hidupnya. Saat batu besar menghadang atau menemui jalan buntu, mereka akan mencari jalan alternatif lain. Saat kelelahan atau jatuh mereka berintrospeksi      diri          dan         terus       bertahan                               Climbers   memiliki kematangan dan kebijaksanaan, dalam memutuskan strategi mundur sejenak dalam rangka bergerak lebih maju lagi. Kamus hidupnya adalah tumbuh dan terus tumbuh dan belajar seumur hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar