ADVERSITY QOUTIENT, APA
ITU
?
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Penelitian menunjukkan bahwa selain IQ dan EQ, penentu keberhasilan
seseorang dalam hidupnya adalah
juga kemampuan adversity Qoutient (AQ).
Adversity Qoutient adalah
kemampuan seseorang untuk seberapa jauh dapat bertahan menghadapi kesulitan
– kesulitan dan dapat mengatasi
kesulitan – kesulitannya.
Semua Kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan
(peluang) bagi jiwa kita untuk tumbuh
Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut sari tulisan Paul G. Stoltz, Ph.D.,
2000, tentang Adversity Qoutient ini.
Pada umumnya,
ketika dihadapkan pada tantangan – tantangan
hidup, kebanyakan orang berhenti berusaha sebelum tenaga dan batas
kemampuan benar – benar teruji. Banyak
orang
yang
mudah menyerah !
Mengapa ada banyak orang yang jelas
– jelas sangat berbakat
(cerdas) namun gagal menunjukkan dan membuktikan potensi dirinya ?
Sebaliknya tidak sedikit orang yang hanya memiliki sepersekian saja sumber daya (bakat dan kecerdasan) dan
dengan kesempata yang
sama
justru bisa lebih
unggul dan mempunyai prestasi melebihi yang diharapkan dan diperkirakan.
Manusia dilahirkan dengan dilengkapi satu dorongan inti
manusiawi, yakni dorongan untuk
terus
mendaki.
Mendaki dalam arti luas adalah menggerakkan terus dan terus
tujuan – tujuan hidup ke depan.
Misalnya :
tujuan memperbaiki nilai rapor, menyelesaikan SMA / Perguruan Tinggi, berwiraswasta yang sukses, menjadi
seorang pakar yang piawai, pengusaha yang berhasil, dan seterusnya termasuk tujuan menjadi hamba yang
dekat
dengan Tuhannya sehingga sukses dunia akhiratnya.
Yang jelas orang – orang yang sukses sama –
sama
memiliki dorongan yang
mendalam
(kuat)
untuk berjuang, untuk
maju, untuk meraih cita – cita, dan mewujudkan impian – impiannya.
Inilah
kekuatan
yang disebut adversity (adversity Qoutient), kemampuan untuk mendaki kehidupan ini dan siap bertahan dalam
memecahkan kesulitan
– kesulitan yang mungkin muncul.
Tipe – tipe dalam
pendakian
Dalam perjalanan pendakian hidup ini banyak ditemui bermacam
– macam tipe manusia.
Ada tiga tipe besar manusia, yakni :
1. Tipe “Quitters” (orang – orang yang berhenti)
Mereka berhenti dan memilih tidak mendaki lagi, keluar, mundur
dan
menghindari kewajiban,
tidak memanfaatkan peluang / kesempatan yang ditawarkan dan diberikan Tuhan dalam hidup ini.
2. Tipe “Campers” (orang – orang yang berkemah)
Mereka giat mendaki tetapi
di tengah perjalanan bosan,
merasa cukup dan mengakhiri pendakian dengan mencari tempat datar
dan
nyaman untuk
membangun tanda perkemahan kehidupan ini.
3.
Tipe “Climbers”
(para
pendaki sejati / orang
–
orang yang seumur hiduo membaktikan diri pada pendakian menuju kehidupan
sesungguhnya di hari akhir nanti.
Gaya Hidup Quitter, Camper dan Climber
1. Quitter (orang yang berhenti mendaki) memilih jalan hidup yang datar
– datar saja dan mengambil yang lebih mudah saja. Ironisnya dengan
cara itu, ia akan menderita pada saat yang memilukan adalah ketika ia menoleh kebelakang dan melihat bahwa ternyata kehidupannya tidak
optimal, kurang makna, banyak yang disia – siakan, sangat
boros
dalam waktu dan hidup.
Akibatnya ia menjadi murung,
sinis,
pemarah,
frustasi, menyalahkan semua orang
disekelilingnya dan
membenci (iri hati) pada orang – orang
yang
terus
mendaki kehidupan ini.
“Quitter” mencari pelarian untuk menenangkan hati dan
pikirannya meski semua
belaka. Berlakulah apa yang ditamsilkan bahwa
orang
–
orang yang takut mati sesungguhnya
tidak pernah benar – benar hidup.
2. Gaya hidup “Campers” (orang – orang yang berkemah). Pada mulanya kehidupannya
penuh proses
–
proses
pendakian dan
perjuangan, cukup jauh ia mendaki
namun ia memilih berbelok membangun kemah
di
lereng gunung kehidupan. Karena lelah mendaki, menganggap
prestasi ini sudah cukup. Ia senang dengan ilusinya sendiri tentang apa
yang
sudah ada, tak
menengok apa yang
masih mungkin terjadi.
Gaya hidup
“Campers” memfokuskan
energinya pada kegiatan
“mengukir – ukir”
perkemahan
dan mengisi isinya
dengan barang – barang yang membuat nyaman.
Ia melepaskan
peluang untuk maju. “Campers” menciptakan semacam “penjara yang nyaman” sebuah tenda kehidupan yang terlalu
enak untuk ditinggalkan.
Contoh tipe
“Campers”
adalah
orang – orang
yang
sudah
memiliki pekerjaan bagus, gaji dan tunjangan yang layak, namun mereka telah melepas masa – masa penuh gairah, belajar
dan tumbuh,
energi kreatif. Mereka puas dan mencukupkan diri dan tidak mau
mengembangkan diri (Aktualisasi diri).
3. Gaya Hidup “Climbers” (pendaki sejati)
Mereka menjalani
hidup secara lengkap, mereka yakin bahwa langkah – langkah kecil saat ini akan
membawa kemajuan dan manfaat
jangka panjang.
Pendaki sejati tidak lari dari tantangan dan kesulitan
kehidupan.
Kisah terkenal Thomas Edisson, yang membutuhkan lebih dari
20 tahun dan
50.000
percobaan untuk menemukan baterai
ringan, tahan lama, dan effisien sebagai
catu daya mandiri. Seseorang pernah
bertanya kepadanya “Mr. Edison,
Anda telah gagal 50 kali apa yang
membuat
Anda tegar ?”
“Hasil! ”jawab Edison. Edison seorang “Climbers” yang yakin
akan hasil ia optimistik.
“Climbers” yakin
bahwa segala hal
bisa dan akan terlaksana meskipun orang lain
bersikap negatif dan sudah memutuskan bahwa jalan ini tidak mungkin ditempuh lagi. Meski sesuatu belum pernah dilakukan orang, bukan berarti tidak
bisa dikerjakan.
Ingat Mahatma
Ghandi? Ia tokoh spiritual India yang tanpa
kekuasaan
resmi, tetapi
mampu menggalang kekuatan bangsanya
untuk menggulingkan kolonial Inggris.
“Climber”
tak kenal kata
berhenti dalam kamus hidupnya. Saat batu besar menghadang atau menemui
jalan buntu,
mereka akan mencari jalan alternatif lain. Saat kelelahan atau jatuh mereka berintrospeksi diri dan terus bertahan “Climbers” memiliki kematangan dan kebijaksanaan, dalam memutuskan strategi
mundur sejenak dalam rangka bergerak lebih maju lagi.
Kamus
hidupnya adalah tumbuh dan terus
tumbuh dan belajar seumur hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar