Kamis, 16 Mei 2013

PEMAHAMAN PENGENDALIAN DIRI



PEMAHAMAN PENGENDALIAN DIRI
----------------------------------------------------------------------------------------------------


Tujuan akhir pengendalian diri adlaah untuk mencapai kesuksesan
/ keberhasilan. Perjalanan hidup itu sangat dinamis, kadang berliku, menurun atau mendaki. Medan kehidupan yang demikian itu menuntut kita harus              menguasai  sejumlah          kompetensi            hidup, antara     lain pengendalian diri.
Contoh : Sebuah kendaraan misalnya mobil, apabila tidak mempunyai alat pengendali (rem dan stir) tentutidak bisa difungsikan, sebab akan menimbulkan bencana dan kecelakaan.

A.MENGAPA HARUS MENGENDALIKAN DIRI
Penelitian Daniel Goleman (Ary Ginanjar, 2001) mengisahkan sebagai berikut: Anak-anak usia 4 tahun di TK Standford diuji ketika memasuki ruangan. Di atas meja disediakan kue marsh mallow. Anak boleh mengambilnya dan langsung memakannya. Tetapi bagi yang mau “berpuasa” menahan diri dalam waktu tertentu, maka dia akan mendapat hadiah tambahan satu kue.
Empat belas tahun kemudian, setelah anak-anak lulus SMA, didapati sebagai berikut : Anak-anak sewaktu di TK langsung memakan kue, tidak menahan diri dulu, ternyata cenderung tidak tahan menghadapi stress, mudah tersinggung, gampang terpancing untuk berkelahi, kurang tahan uji dalam mengejar cita-cita.
Tiga puluh tahun kemudian, terbukti bahwa anak yang sewaktu TK tidak bisa menahan diri, setelah dewasa terlihat kecakapan kognitif dan emosinya rendah, sering kesepian, kurang dapat diandalkan, mudah hilang konsentrasinya, dan tidak sabar, bila menghadapi stress hampir tidak terkendali. Tidak fleksibel menghadapi tekanan, dan mudah meledak-ledak (impulsif). Contoh perilaku explosive emosional dan impulsif emosional.


Evaluasi. : Pengalaman Mengendalikan Diri


Berdasarkan penelitian Daniel Goleman di atas, ternyata pengendalian  diri  yang  dilatih sejak  kecil sangat  besar dampaknya bagi perkembangan kepribadian seseorang.
Ceritakan kembali pengalaman pribadi Anda sejak kecil tentang
pengendalian diri yang telah Anda alami dalam keluarga,sekolah,dengan teman dan di masyarakat.


Dampak Positif
Uraikan dampak positif dari pengalaman pengendalian diri tersebut yang
Anda rasakan bagi perkembangan kepribadian Anda saat ini!


B.   BAGAIMANA MENGENDALIKAN DIRI
1.    Pengendalian Suasana Hati
Hati atau Qolbu”adalah pusat kekuatan jiwa. Suasana hati sangta mudah berubah, sejalan dengan dinamika kehidupan yang dialami seseorang. Hati akan menentukan apakah seseorang menjadi mulia atau hina. Hati/qolbu yang membimbing akal dan tubuh kita. Mengendalikan hati berarti selalu membersihkan hati (qolbu) sehingga senantiasa memancarkan rasa syukur, rendah hati, kasih sayang, optimis.

2.    Pengendalian Pikiran dan Visi
Dimensi pikir akan membuahkan hasil / penentu sikap dan perilaku seseorang. Seseorang yang memiliki persepsi / pikiran yang benar (positif) akan membentuk suatu proses (aktivitas) yang benar juga (positif).



Persepsi / Pikiran                                   Proses                              Hasil / Out





(Positif)


(Negatif)


(Positif)                                     (Positif)





Pengendalian pikiran dapat dilakukan dengan mengawasi apa isi terbanyak dalam pikiran kita. Subjek apa yang mendominasi pikiran? Pikiran hanya sibuk dengan diri sendiri, ini adalah indikator egoisme. Pikiran  yang  penuh  dengan  urusan  uang, harta, gelar,  jabatan  dan keduniaan lainnya, ini juga berarti indikator juga materialistis.
Cara lain untuk megendalikan pikiran adalah dengan berpikir holistik. Ary   Ginanjar    menyebutkan    berpikir    melingkar    yakni    dengan mempertimbangkan semua dimensi.


3.    Pengendalian Nafsu/Hasrat
Maslow menyebutkan bahwa motif-motif yang mendorong bertingkah laku adalah keinginan memuaskan kebutuhan. Urutan kebutuhan manusia adalah kebutuhan fisik (makan, minum, pakaian, tempat tinggal), rasa aman, diterima, dicintai, diakui, ingintahu, mendapat keindahan dan aktualisasi diri.
Hasrat  dan  nafsu  untuk  memenuhi  kebutuhan-kebutuhan tersebut hendaknya tetap terkendali dengan dilandasi nilai-nilai keimanan.
Contoh : Nafsu makan tidak terkendali dapat membawa petaka berupa penyakit tertentu, bahwa dihari akhir nanti setiap butir makanan halal
/  haram  akan  dipertanggungjawabkan.  Nafsu,  pendengaran,  mata

harus dipelihara dari yang menyesatkan dengan memperbanyak membaca  dan  memandang  hal-hal  yang  mencerahkan  pikiran  dan hati. Lidah harus terkendali supaya tidak memproduksi ucapan yang menyakitkan dan mencelakakan diri sendiri serta orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar